MIS Islam Terpadu Al-Uswah menyelenggarakan upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman utama madrasah ini diikuti oleh seluruh siswa MI dan SMP SMA IT Al-Uswah, jajaran guru, dan staf kependidikan.
Berbeda dari biasanya, seluruh perangkat upacara kali ini dipercayakan kepada siswa-siswi kelas 4. Meski masih di jenjang kelas menengah, para petugas berhasil menjalankan rangkaian upacara secara runtut, mulai dari pemimpin upacara, pengibar bendera, pembaca teks Pembukaan UUD 1945, hingga paduan suara.
Ustadzah Khusnul Khotimah, S.Th.I., bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam amanatnya, beliau memaparkan biografi dan keteladanan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Beliau juga menekankan bahwa nilai perjuangan ini selaras dengan prinsip Islam yang mengedepankan ketakwaan dan manfaat bagi sesama, bukan garis keturunan.
"Anak-anakku sekalian, Ki Hajar Dewantara adalah seorang keturunan ningrat, beliau adalah keluarga kerajaan Yogyakarta. Namun, beliau memilih menanggalkan gelar kebangsawanannya agar bisa lebih dekat dengan rakyat jelata. Beliau merasa dirinya sejajar dengan orang biasa dan berjuang agar semua anak, bukan hanya anak pejabat, bisa bersekolah."
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ki Hajar Dewantara
Sebagai tokoh yang dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional, riwayat hidup Ki Hajar Dewantara merupakan cermin dari dedikasi tanpa batas untuk kemajuan bangsa. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, beliau berasal dari lingkungan keluarga ningrat Kadipaten Pakualaman.
Meskipun menyandang status bangsawan, beliau memilih untuk melepaskan gelar tersebut saat berusia 40 tahun agar dapat berbaur tanpa sekat dengan rakyat jelata. Perjalanan pendidikannya sempat berlabuh di sekolah dokter STOVIA, meski tidak selesai karena kondisi kesehatan, namun semangat belajarnya justru membawa beliau terjun ke dunia jurnalistik dan politik.
Tulisan-tulisan beliau yang tajam dan kritis terhadap pemerintah kolonial, seperti artikel fenomenal "Seandainya Aku Seorang Belanda", sempat membuat beliau diasingkan ke Belanda. Di masa pengasingan itulah, beliau justru mendalami ilmu pendidikan yang kemudian diimplementasikan sekembalinya ke tanah air dengan mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tahun 1922.
Melalui lembaga inilah, beliau melahirkan filosofi kepemimpinan pendidikan yang sangat melegenda, yakni Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanggal kelahirannya kini diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Pesan untuk Generasi Masa Depan
Menutup amanatnya, Ustadzah Khusnul Khotimah memberikan motivasi yang membakar semangat para siswa MIS Islam Terpadu Al-Uswah. Beliau menjelaskan bahwa sikap rendah hati sang pahlawan sangat relevan dengan ajaran Islam, di mana kemuliaan seseorang tidak dilihat dari nasab atau keturunannya, melainkan dari ketakwaan dan kebermanfaatannya bagi sesama. Beliau berpesan agar fasilitas pendidikan yang sudah mapan saat ini jangan sampai membuat siswa menjadi manja atau malas.
Upacara diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu petugas kelas 4, memohon keberkahan ilmu bagi seluruh keluarga besar madrasah. Peringatan Hardiknas 2026 di MIS Islam Terpadu Al-Uswah ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa syukur dan tekad baru bagi para siswa untuk terus mengukir prestasi demi masa depan Indonesia yang lebih gemilang.
0 Komentar